Biggie Smalls tidak hanya menjadi bintang. Dia ditemukan.

Sean Combs menemukannya. Combs menandatangani The Notorious B.I.G. ke Bad Boy Entertainment pada tahun 1993. Itu mengubah segalanya. Smalls menjadi ikon rap hampir dalam semalam.

Lalu semuanya berakhir.

Penembakan saat berkendara pada tahun 1997 merenggut nyawanya. Gelombang kejut langsung terjadi. Kesedihan itu diketahui publik.

Combs dan Faith Evans, janda Biggie, menyalurkan rasa sakit itu ke dalam musik. Mereka menciptakan “Aku Akan Merindukanmu.” Lagu itu bukan sekedar lagu. Itu adalah sebuah peringatan.

Itu memenangkan Grammy.

Single tersebut tetap menjadi salah satu penghormatan paling ikonik dalam sejarah hip-hop. Ini mengabadikan momen ketika sebuah komunitas kehilangan suaranya. Penggemar masih mencari detail tentang pembuatan lagu tersebut. Mereka ingin tahu bagaimana dua orang mengubah patah hati menjadi pukulan nomor satu.

Lagu tersebut mengambil sampel “All For Love” dari Starsailor. Combs memproduksinya. Evans mengisi vokal. Kehadiran Biggie melekat di setiap lirik.

Mengapa hal ini penting sekarang?

Ini menunjukkan bagaimana seni memproses kehilangan. Ini menyoroti ikatan antara artis dan label. Dan hal ini membuat warisan Biggie tetap hidup.

Orang-orang bertanya lagu mana yang mendefinisikan hip-hop tahun 90an. Ini adalah satu. Mereka bertanya siapa yang membentuk suara Bad Boy. Masalah besar melakukannya.

B.I.G. meninggal terlalu muda. Namun dampaknya tidak. Faith Evans dan Sean Combs memastikan hal itu.

Penghormatan mereka masih bergema.

Pendengar menyimak. Mereka ingat.

Apa jadinya jika kesedihan menjadi sebuah bencana global?

Itu tetap bersamamu.