Peralihan gaya Regency ke Victorian bukan sekadar perubahan selera. Itu adalah perombakan total terhadap cara perempuan mengkonstruksi tubuh mereka di depan umum.
Lihatlah awal tahun 1800-an di Inggris Raya. Busana kabupaten banyak diambil dari patung Yunani dan Romawi kuno. Tujuannya wajar. Pakaian mengalir ke seluruh tubuh alih-alih membentuknya. Anda memiliki siluet lurus. Garis pinggangnya tinggi, tepat di bawah payudara. Tampilan pinggang kekaisaran ini mengandalkan kain ringan yang menutupi bentuk tubuh. Dekorasi sangat minim. Estetikanya diremehkan.
Maju cepat ke tahun 1837. Ratu Victoria naik takhta. Estetikanya terbalik.
Gaya Victoria menganut struktur. Ini tentang kontrol. Wanita mengenakan korset bertali ketat untuk mengencangkan pinggang. Rok dalam berlapis dan kemudian crinoline menciptakan volume besar pada rok. Hasilnya adalah bentuk jam pasir yang kaku. Itu kebalikan dari garis Kabupaten yang mengalir.
Perbedaannya lebih dalam dari sekedar pemotongan. Pakaian Kabupaten itu sederhana. Pakaian Victoria dipangkas dengan mewah. Kain yang lebih berat menggantikan kain muslin ringan pada era sebelumnya. Menjahit menjadi jauh lebih kaku.
Mengapa pergeseran ini terjadi? Itu tidak acak. Garis pinggang yang tinggi pada masa Kabupaten mencerminkan cita-cita demokrasi Revolusi Perancis dan zaman klasik. Ini menyarankan kebebasan bergerak. Era Victoria menuntut kesopanan dan status. Struktur pakaian menegakkan batasan sosial.
Era manakah yang lebih Anda rasakan? Aliran yang mudah atau kekuatan yang terstruktur?
“Gaya Victoria menganut struktur… menciptakan siluet jam pasir yang dikontrol dengan ketat.”
Transisi ini menandai salah satu perubahan paling dramatis dalam sejarah mode. Kami berpindah dari tubuh apa adanya ke tubuh seperti yang kami inginkan. Ketegangan antara naturalisme dan konstruksi masih menentukan sebagian besar pakaian yang kita kenakan saat ini.
Siluet Regency menghilang dengan cepat. Pada tahun 1840-an, pinggang turun kembali ke posisi aslinya. Namun strukturnya tetap ada. Korsetnya tetap ada. Volumenya bertambah.
Ini bukan hanya tentang sejarah. Ini tentang bagaimana kita mendefinisikan feminitas melalui pakaian.






















